Senin, 06 Juli 2009

CERITA WAYANG

PESAN BHISMA KEPADA YUDHISTIRA
Persatuan Hastina adalah prioritas hidup Bhisma
Prabu Sentanu yang kehilangan semangat hidup atas meninggalnya sang permaisuri, jatuh cinta terhadap perempuan cantik berbau harum Dewi Durgandini. Dewi Durgandini yang telah berputra Abyasa atas perkawinannya dengan Resi Parasara, hanya mau kawin apabila anak-anaknya kelak menjadi putra mahkota. Sang Prabu Sentanu sangat bingung, yang berhak menjadi putra mahkota adalah Bhisma putranya atas perkawinanannya dengan Dewi Gangga, mendiang permaisurinya, kalaupun Bhisma bersedia mengalah, maka anak keturunan Bhisma tetap akan menuntut haknya, dan akan terjadi perang saudara pada wangsa Kuru. Memikir terlalu dalam, Sang Prabu sakit keras. Sebagai seorang anak yang berbakti, Bhisma mengalah tidak mau menjadi putra mahkota bahkan bersumpah untuk tidak kawin seumur hidup. Demikianlah kecintaan Bhisma terhadap negara Hastina, Ibu Pertiwinya, agar tidak terjadi perang saudara di kemudian hari. Pengorbanan Bhisma yang begitu besar meningkatkan spiritual Bhisma, sehingga dia bisa menentukan kapan saatnya meninggalkan jasadnya di dunia di kemudian hari.
Dewi Durgandini dengan Prabu Sentanu mempunyai dua orang putra, Citragada dan Wicitrawirya. Citragada seorang yang sakti, akan tetapi sombong dan akhirnya mati sebelum kawin. Wicitrawirya seorang yang lemah dan diperkirakan akan kalah dalam sayembara untuk mendapatkan seorang putri raja. Ketika Raja Kasi mengadakan sayembara bagi tiga putrinya, demi pengabdian kepada kerajaan Hastina, Bhisma ikut bertanding, menang dan memboyong ketiga putri untuk diberikan kepada Wicitrawirya. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika menerima kondisi tersebut, akan tetapi Dewi Amba menolak. Bhisma telah membunuh kekasih Dewi Amba, sudah seharusnya Bhisma memperistri dia. Bhisma mengatakan bahwa dirinya telah bersumpah tidak akan kawin. Bhisma paham perkawinan dengan Dewi Amba akan membuat masalah bagi Hastina, akan terjadi perpecahan antara putranya dengan putra Wicitrawirya. Bhisma menakut-nakuti Dewi Amba dengan anak panah yang secara tidak sengaja terlepas dan membunuh Dewi Amba. Bhisma tertegun, demi Hastina tanpa sengaja dia telah membunuh seorang putri, Bhisma sadar dia pun akan terbunuh oleh seorang putri juga nantinya.
Pengabdian Bhisma rupanya hampir sia-sia, karena Wicitrawirya pun meninggal sebelum memberikan putra. Dewi Durgandini mohon ampun kepada Yang Maha Kuasa atas kesalahannya dan minta Abyasa putranya dengan Resi Parasara memperistri Dewi Ambalika dan Dewi Ambika untuk sekedar memberikan keturunan. Abyasa patuh terhadap ibunya walau tidak ikhlas memperistri mereka. Abyasa membuat dirinya berwajah mengerikan, sehingga ketika berhubungan suami istri Dewi Ambalika menutup mata, sehingga lahirlah Destaratha yang buta. Sedangkan Dewi Ambika melengoskan leher dan pucat pasi melihat wajah Abyasa yang mengerikan, sehingga lahirlah Pandu yang lehernya miring dan pucat. Dewi Durgandini, kecewa dan minta mereka berhubungan suami istri dengan baik. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika mendandani seorang pelayan dengan menutupi mukanya ketika berhubungan suami istri dengan Abyasa. Walaupun Abyasa tahu hal tersebut, dia tidak mau mengecewakan ibunya dan lahirlah Widura. Setelah itu, Abyasa pergi ke gunung Saptaarga meneruskan dharmanya sebagai penulis kitab-kitab tentang ketuhanan.
Bhisma tetap setia melindungi Kerajaan Hastinapura, walaupun seiring dengan perjalanan waktu negara Hastinapura dipimpin oleh kelompok Adharma. Apabila penguasanya bijaksana, Bhisma akan mendukung penuh, akan tetapi bila penguasanya lalim, Bhisma akan berusaha sekuat tenaga untuk mengingatkannya. Baginya yang penting negara Hastina aman sentosa dan sedapat mungkin berjalan di jalan yang benar. Beliau sadar adharma selalu ada. “Adakah seorang diantara kita yang dapat mematikan kegelapan? Tidak. Kegelapan itu abadi adanya. Nyalakan pelita pencerahan diri, dan yang gelap menjadi terang seketika”.
Dalam intrik-intrik perebutan kekuasaan, antara kelompok pro-Destaratha yang buta, ataupun kelompok pro-Pandu yang sakit-sakitan, Bhisma melindungi negara agar negara tetap utuh. Ketika kebijakan Hastina mulai dibelokkan oleh Patih Shakuni, Bhisma tidak mau mengundurkan diri. Apabila ditinggalkannya, negara Hastina akan semakin kacau. Kalau dia mengundurkan diri karena kecewa terhadap Shakuni, keberadaan dia tidak ada manfaatnya bagi Ibu Pertiwi. Usaha diplomasi yang dilakukan Sri Krishna untuk menggagalkan perang Bharatayuda didukung Bhisma, tetapi hasilnya sia-sia juga.
Dilema muncul ketika terjadi perang Bharatayuda, dia akan berada di pihak siapa? Bhisma menenangkan diri, mengheningkan cipta. Aku ini siapa? Aku bukan badanku, bukan pula pikiran dan perasaanku. Aku abadi, keberadaanku di dunia, menghadapi segala permasalahan pelik adalah untuk menyadari jati diriku. Bhisma tahu bahwa Sri Krishna adalah titisan Wisnu. Di dalam dirinya pun terdapat Sri Krishna, sang pikiran jernih. Segalanya berjalan sesuai skenario Sri Krishna. “Sudahlah Krishna, kalau memang diriku harus berperang melawan Pandawa, aku jalani peranku. Aku mohon berkahmu. Aku tidak peduli masyarakat yang mencibirku karena aku memihak Korawa yang jahat. Kalau memang itu bagian dari skenario-Mu, aku ikhlas. Bhaktiku pada Ibu Pertiwi Hastina juga merupakan bhaktiku pada perwujudan dari-Mu juga”.
Pertanyaan Yudistira menjelang kematian Bhisma
Dalam keadaan luka-luka terkena puluhan anak panah Srikandi, Resi Bhisma bertahan menunggu saat yang tepat untuk meninggalkan badannya. Pada waktu itu Yudhistira, sulung Pandawa bertanya, “Kakek yang Agung, aku masih bingung, sebenarnya Dharma itu apa? Dan apa perbedaannya dengan Adharma?”
Resi Bhisma menjelaskan, “Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik itulah Adharma dan segala yang mengakhiri Adharma adalah Dharma. Apa dan siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecah belah bangsa adalah Adharma. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian.”
Pertanyaan selanjutnya, “Kemudian yang menetapkan mana yang Dharma dan mana yang Adharma itu siapa? Bukankah bisa disalah gunakan mereka yang mempunyai ‘interest’, kepentingan pribadi atau kelompok tertentu terhadap politik dan kekuasaan?”
Resi Bhisma menjelaskan, “Untuk menentukan mana Dharma dan mana Adharma, satu-satunya kesaksian yang dibutuhkan adalah kesaksian diri pribadi, kesaksian hati nurani. Hanya orang yang sadar dan percaya secara tulus terhadap kebenaran yang dapat menentukan. Dasar awal perjuangan adalah landasan spiritual, bukan kepentingan keduniawian.”
Bagi Pandawa dengan tuntunan Sri Krishna, berperang melawan Korawa adalah dharma. Bagi Bhisma mempersatukan Ibu Pertiwinya, Hastina adalah dharma, yang akan dipersembahkannya kepada Gusti Yang Maha kuasa sampai nyawanya dicabut di dunia.

BERSAMBUNG...........
PESAN BHISMA KEPADA YUDHISTIRA

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/
http://triwidodo.wordpress.com