AROMA TANAH TERSIRAM RINTIK HUJAN BEGITU NIKMAT...PEMANDANGAN LANGKA DITENGAH KEMARAU...HARUM DAN SEJUK.....MENUSUK HIDUNG....(H.DAHLIA)
KU MENGERTI ARTI KERINDUAN INI..
DAN TELAH KU MENGERTI APA YANG AKU CARI...
HUJAN TELAH SIRAMI KEMAMARAU KU....
MEMAYU HAYUNING BAWANA SAK ISINE ***LARASATI KESEIMBANGAN DAN HARMONI*** Terima kasih kepada Guru yang telah membebaskan diri kami dari sekat-sekat keyakinan dan kepercayaan. Selanjutnya, ‘ngelmu kawruh’, pengetahuan tentang Kebenaran Sejati harus dinyatakan dalam tindakan penuh “KESADARAN,KESABARAN,KEIKHLASAN” sehari-hari***Satuhu*** From Zero To Hero
Sabtu, 25 Juli 2009
Senin, 13 Juli 2009
Senin, 06 Juli 2009
CERITA WAYANG
PESAN BHISMA KEPADA YUDHISTIRA
Persatuan Hastina adalah prioritas hidup Bhisma
Prabu Sentanu yang kehilangan semangat hidup atas meninggalnya sang permaisuri, jatuh cinta terhadap perempuan cantik berbau harum Dewi Durgandini. Dewi Durgandini yang telah berputra Abyasa atas perkawinannya dengan Resi Parasara, hanya mau kawin apabila anak-anaknya kelak menjadi putra mahkota. Sang Prabu Sentanu sangat bingung, yang berhak menjadi putra mahkota adalah Bhisma putranya atas perkawinanannya dengan Dewi Gangga, mendiang permaisurinya, kalaupun Bhisma bersedia mengalah, maka anak keturunan Bhisma tetap akan menuntut haknya, dan akan terjadi perang saudara pada wangsa Kuru. Memikir terlalu dalam, Sang Prabu sakit keras. Sebagai seorang anak yang berbakti, Bhisma mengalah tidak mau menjadi putra mahkota bahkan bersumpah untuk tidak kawin seumur hidup. Demikianlah kecintaan Bhisma terhadap negara Hastina, Ibu Pertiwinya, agar tidak terjadi perang saudara di kemudian hari. Pengorbanan Bhisma yang begitu besar meningkatkan spiritual Bhisma, sehingga dia bisa menentukan kapan saatnya meninggalkan jasadnya di dunia di kemudian hari.
Dewi Durgandini dengan Prabu Sentanu mempunyai dua orang putra, Citragada dan Wicitrawirya. Citragada seorang yang sakti, akan tetapi sombong dan akhirnya mati sebelum kawin. Wicitrawirya seorang yang lemah dan diperkirakan akan kalah dalam sayembara untuk mendapatkan seorang putri raja. Ketika Raja Kasi mengadakan sayembara bagi tiga putrinya, demi pengabdian kepada kerajaan Hastina, Bhisma ikut bertanding, menang dan memboyong ketiga putri untuk diberikan kepada Wicitrawirya. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika menerima kondisi tersebut, akan tetapi Dewi Amba menolak. Bhisma telah membunuh kekasih Dewi Amba, sudah seharusnya Bhisma memperistri dia. Bhisma mengatakan bahwa dirinya telah bersumpah tidak akan kawin. Bhisma paham perkawinan dengan Dewi Amba akan membuat masalah bagi Hastina, akan terjadi perpecahan antara putranya dengan putra Wicitrawirya. Bhisma menakut-nakuti Dewi Amba dengan anak panah yang secara tidak sengaja terlepas dan membunuh Dewi Amba. Bhisma tertegun, demi Hastina tanpa sengaja dia telah membunuh seorang putri, Bhisma sadar dia pun akan terbunuh oleh seorang putri juga nantinya.
Pengabdian Bhisma rupanya hampir sia-sia, karena Wicitrawirya pun meninggal sebelum memberikan putra. Dewi Durgandini mohon ampun kepada Yang Maha Kuasa atas kesalahannya dan minta Abyasa putranya dengan Resi Parasara memperistri Dewi Ambalika dan Dewi Ambika untuk sekedar memberikan keturunan. Abyasa patuh terhadap ibunya walau tidak ikhlas memperistri mereka. Abyasa membuat dirinya berwajah mengerikan, sehingga ketika berhubungan suami istri Dewi Ambalika menutup mata, sehingga lahirlah Destaratha yang buta. Sedangkan Dewi Ambika melengoskan leher dan pucat pasi melihat wajah Abyasa yang mengerikan, sehingga lahirlah Pandu yang lehernya miring dan pucat. Dewi Durgandini, kecewa dan minta mereka berhubungan suami istri dengan baik. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika mendandani seorang pelayan dengan menutupi mukanya ketika berhubungan suami istri dengan Abyasa. Walaupun Abyasa tahu hal tersebut, dia tidak mau mengecewakan ibunya dan lahirlah Widura. Setelah itu, Abyasa pergi ke gunung Saptaarga meneruskan dharmanya sebagai penulis kitab-kitab tentang ketuhanan.
Bhisma tetap setia melindungi Kerajaan Hastinapura, walaupun seiring dengan perjalanan waktu negara Hastinapura dipimpin oleh kelompok Adharma. Apabila penguasanya bijaksana, Bhisma akan mendukung penuh, akan tetapi bila penguasanya lalim, Bhisma akan berusaha sekuat tenaga untuk mengingatkannya. Baginya yang penting negara Hastina aman sentosa dan sedapat mungkin berjalan di jalan yang benar. Beliau sadar adharma selalu ada. “Adakah seorang diantara kita yang dapat mematikan kegelapan? Tidak. Kegelapan itu abadi adanya. Nyalakan pelita pencerahan diri, dan yang gelap menjadi terang seketika”.
Dalam intrik-intrik perebutan kekuasaan, antara kelompok pro-Destaratha yang buta, ataupun kelompok pro-Pandu yang sakit-sakitan, Bhisma melindungi negara agar negara tetap utuh. Ketika kebijakan Hastina mulai dibelokkan oleh Patih Shakuni, Bhisma tidak mau mengundurkan diri. Apabila ditinggalkannya, negara Hastina akan semakin kacau. Kalau dia mengundurkan diri karena kecewa terhadap Shakuni, keberadaan dia tidak ada manfaatnya bagi Ibu Pertiwi. Usaha diplomasi yang dilakukan Sri Krishna untuk menggagalkan perang Bharatayuda didukung Bhisma, tetapi hasilnya sia-sia juga.
Dilema muncul ketika terjadi perang Bharatayuda, dia akan berada di pihak siapa? Bhisma menenangkan diri, mengheningkan cipta. Aku ini siapa? Aku bukan badanku, bukan pula pikiran dan perasaanku. Aku abadi, keberadaanku di dunia, menghadapi segala permasalahan pelik adalah untuk menyadari jati diriku. Bhisma tahu bahwa Sri Krishna adalah titisan Wisnu. Di dalam dirinya pun terdapat Sri Krishna, sang pikiran jernih. Segalanya berjalan sesuai skenario Sri Krishna. “Sudahlah Krishna, kalau memang diriku harus berperang melawan Pandawa, aku jalani peranku. Aku mohon berkahmu. Aku tidak peduli masyarakat yang mencibirku karena aku memihak Korawa yang jahat. Kalau memang itu bagian dari skenario-Mu, aku ikhlas. Bhaktiku pada Ibu Pertiwi Hastina juga merupakan bhaktiku pada perwujudan dari-Mu juga”.
Pertanyaan Yudistira menjelang kematian Bhisma
Dalam keadaan luka-luka terkena puluhan anak panah Srikandi, Resi Bhisma bertahan menunggu saat yang tepat untuk meninggalkan badannya. Pada waktu itu Yudhistira, sulung Pandawa bertanya, “Kakek yang Agung, aku masih bingung, sebenarnya Dharma itu apa? Dan apa perbedaannya dengan Adharma?”
Resi Bhisma menjelaskan, “Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik itulah Adharma dan segala yang mengakhiri Adharma adalah Dharma. Apa dan siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecah belah bangsa adalah Adharma. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian.”
Pertanyaan selanjutnya, “Kemudian yang menetapkan mana yang Dharma dan mana yang Adharma itu siapa? Bukankah bisa disalah gunakan mereka yang mempunyai ‘interest’, kepentingan pribadi atau kelompok tertentu terhadap politik dan kekuasaan?”
Resi Bhisma menjelaskan, “Untuk menentukan mana Dharma dan mana Adharma, satu-satunya kesaksian yang dibutuhkan adalah kesaksian diri pribadi, kesaksian hati nurani. Hanya orang yang sadar dan percaya secara tulus terhadap kebenaran yang dapat menentukan. Dasar awal perjuangan adalah landasan spiritual, bukan kepentingan keduniawian.”
Bagi Pandawa dengan tuntunan Sri Krishna, berperang melawan Korawa adalah dharma. Bagi Bhisma mempersatukan Ibu Pertiwinya, Hastina adalah dharma, yang akan dipersembahkannya kepada Gusti Yang Maha kuasa sampai nyawanya dicabut di dunia.
BERSAMBUNG...........
PESAN BHISMA KEPADA YUDHISTIRA
http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/
http://triwidodo.wordpress.com
Persatuan Hastina adalah prioritas hidup Bhisma
Prabu Sentanu yang kehilangan semangat hidup atas meninggalnya sang permaisuri, jatuh cinta terhadap perempuan cantik berbau harum Dewi Durgandini. Dewi Durgandini yang telah berputra Abyasa atas perkawinannya dengan Resi Parasara, hanya mau kawin apabila anak-anaknya kelak menjadi putra mahkota. Sang Prabu Sentanu sangat bingung, yang berhak menjadi putra mahkota adalah Bhisma putranya atas perkawinanannya dengan Dewi Gangga, mendiang permaisurinya, kalaupun Bhisma bersedia mengalah, maka anak keturunan Bhisma tetap akan menuntut haknya, dan akan terjadi perang saudara pada wangsa Kuru. Memikir terlalu dalam, Sang Prabu sakit keras. Sebagai seorang anak yang berbakti, Bhisma mengalah tidak mau menjadi putra mahkota bahkan bersumpah untuk tidak kawin seumur hidup. Demikianlah kecintaan Bhisma terhadap negara Hastina, Ibu Pertiwinya, agar tidak terjadi perang saudara di kemudian hari. Pengorbanan Bhisma yang begitu besar meningkatkan spiritual Bhisma, sehingga dia bisa menentukan kapan saatnya meninggalkan jasadnya di dunia di kemudian hari.
Dewi Durgandini dengan Prabu Sentanu mempunyai dua orang putra, Citragada dan Wicitrawirya. Citragada seorang yang sakti, akan tetapi sombong dan akhirnya mati sebelum kawin. Wicitrawirya seorang yang lemah dan diperkirakan akan kalah dalam sayembara untuk mendapatkan seorang putri raja. Ketika Raja Kasi mengadakan sayembara bagi tiga putrinya, demi pengabdian kepada kerajaan Hastina, Bhisma ikut bertanding, menang dan memboyong ketiga putri untuk diberikan kepada Wicitrawirya. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika menerima kondisi tersebut, akan tetapi Dewi Amba menolak. Bhisma telah membunuh kekasih Dewi Amba, sudah seharusnya Bhisma memperistri dia. Bhisma mengatakan bahwa dirinya telah bersumpah tidak akan kawin. Bhisma paham perkawinan dengan Dewi Amba akan membuat masalah bagi Hastina, akan terjadi perpecahan antara putranya dengan putra Wicitrawirya. Bhisma menakut-nakuti Dewi Amba dengan anak panah yang secara tidak sengaja terlepas dan membunuh Dewi Amba. Bhisma tertegun, demi Hastina tanpa sengaja dia telah membunuh seorang putri, Bhisma sadar dia pun akan terbunuh oleh seorang putri juga nantinya.
Pengabdian Bhisma rupanya hampir sia-sia, karena Wicitrawirya pun meninggal sebelum memberikan putra. Dewi Durgandini mohon ampun kepada Yang Maha Kuasa atas kesalahannya dan minta Abyasa putranya dengan Resi Parasara memperistri Dewi Ambalika dan Dewi Ambika untuk sekedar memberikan keturunan. Abyasa patuh terhadap ibunya walau tidak ikhlas memperistri mereka. Abyasa membuat dirinya berwajah mengerikan, sehingga ketika berhubungan suami istri Dewi Ambalika menutup mata, sehingga lahirlah Destaratha yang buta. Sedangkan Dewi Ambika melengoskan leher dan pucat pasi melihat wajah Abyasa yang mengerikan, sehingga lahirlah Pandu yang lehernya miring dan pucat. Dewi Durgandini, kecewa dan minta mereka berhubungan suami istri dengan baik. Dewi Ambalika dan Dewi Ambika mendandani seorang pelayan dengan menutupi mukanya ketika berhubungan suami istri dengan Abyasa. Walaupun Abyasa tahu hal tersebut, dia tidak mau mengecewakan ibunya dan lahirlah Widura. Setelah itu, Abyasa pergi ke gunung Saptaarga meneruskan dharmanya sebagai penulis kitab-kitab tentang ketuhanan.
Bhisma tetap setia melindungi Kerajaan Hastinapura, walaupun seiring dengan perjalanan waktu negara Hastinapura dipimpin oleh kelompok Adharma. Apabila penguasanya bijaksana, Bhisma akan mendukung penuh, akan tetapi bila penguasanya lalim, Bhisma akan berusaha sekuat tenaga untuk mengingatkannya. Baginya yang penting negara Hastina aman sentosa dan sedapat mungkin berjalan di jalan yang benar. Beliau sadar adharma selalu ada. “Adakah seorang diantara kita yang dapat mematikan kegelapan? Tidak. Kegelapan itu abadi adanya. Nyalakan pelita pencerahan diri, dan yang gelap menjadi terang seketika”.
Dalam intrik-intrik perebutan kekuasaan, antara kelompok pro-Destaratha yang buta, ataupun kelompok pro-Pandu yang sakit-sakitan, Bhisma melindungi negara agar negara tetap utuh. Ketika kebijakan Hastina mulai dibelokkan oleh Patih Shakuni, Bhisma tidak mau mengundurkan diri. Apabila ditinggalkannya, negara Hastina akan semakin kacau. Kalau dia mengundurkan diri karena kecewa terhadap Shakuni, keberadaan dia tidak ada manfaatnya bagi Ibu Pertiwi. Usaha diplomasi yang dilakukan Sri Krishna untuk menggagalkan perang Bharatayuda didukung Bhisma, tetapi hasilnya sia-sia juga.
Dilema muncul ketika terjadi perang Bharatayuda, dia akan berada di pihak siapa? Bhisma menenangkan diri, mengheningkan cipta. Aku ini siapa? Aku bukan badanku, bukan pula pikiran dan perasaanku. Aku abadi, keberadaanku di dunia, menghadapi segala permasalahan pelik adalah untuk menyadari jati diriku. Bhisma tahu bahwa Sri Krishna adalah titisan Wisnu. Di dalam dirinya pun terdapat Sri Krishna, sang pikiran jernih. Segalanya berjalan sesuai skenario Sri Krishna. “Sudahlah Krishna, kalau memang diriku harus berperang melawan Pandawa, aku jalani peranku. Aku mohon berkahmu. Aku tidak peduli masyarakat yang mencibirku karena aku memihak Korawa yang jahat. Kalau memang itu bagian dari skenario-Mu, aku ikhlas. Bhaktiku pada Ibu Pertiwi Hastina juga merupakan bhaktiku pada perwujudan dari-Mu juga”.
Pertanyaan Yudistira menjelang kematian Bhisma
Dalam keadaan luka-luka terkena puluhan anak panah Srikandi, Resi Bhisma bertahan menunggu saat yang tepat untuk meninggalkan badannya. Pada waktu itu Yudhistira, sulung Pandawa bertanya, “Kakek yang Agung, aku masih bingung, sebenarnya Dharma itu apa? Dan apa perbedaannya dengan Adharma?”
Resi Bhisma menjelaskan, “Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik itulah Adharma dan segala yang mengakhiri Adharma adalah Dharma. Apa dan siapa pun yang menciderai persatuan dan menyebabkan konflik, ketegangan yang berpotensi memecah belah bangsa adalah Adharma. Dharma memperkuat, mengembangkan persatuan dan keserasian.”
Pertanyaan selanjutnya, “Kemudian yang menetapkan mana yang Dharma dan mana yang Adharma itu siapa? Bukankah bisa disalah gunakan mereka yang mempunyai ‘interest’, kepentingan pribadi atau kelompok tertentu terhadap politik dan kekuasaan?”
Resi Bhisma menjelaskan, “Untuk menentukan mana Dharma dan mana Adharma, satu-satunya kesaksian yang dibutuhkan adalah kesaksian diri pribadi, kesaksian hati nurani. Hanya orang yang sadar dan percaya secara tulus terhadap kebenaran yang dapat menentukan. Dasar awal perjuangan adalah landasan spiritual, bukan kepentingan keduniawian.”
Bagi Pandawa dengan tuntunan Sri Krishna, berperang melawan Korawa adalah dharma. Bagi Bhisma mempersatukan Ibu Pertiwinya, Hastina adalah dharma, yang akan dipersembahkannya kepada Gusti Yang Maha kuasa sampai nyawanya dicabut di dunia.
BERSAMBUNG...........
PESAN BHISMA KEPADA YUDHISTIRA
http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/
http://triwidodo.wordpress.com
Kamis, 02 Juli 2009
ASAL USUL
Basa Jawa kuwe kegolong basa Austronesia, utawa basa-basa sing dienggo sekabehe bangsa Pribumi nang kapulowan sakidul-wetaning benua Asia. Basa Jawa kasebar molai pucuk kulon pulo Jawa, Banten nganti pucuk wetan Banyuwangi. Seliyane kuwe, Basa kiye kasebar nang Walanda, Suriname, Curacao karo nang Kaledonia Baru. Seliyane kuwe Basa Jawa uga dituturaken nang Malaysia, Sumatera ngantek Irian Jaya.
Basa Jawa dadi kontributor paling gedhe kanggo pengembangan Basa Indonesia. Sanajan dudu basa resmi nang pemerentahan, Basa Jawa kuwe duwe pengaruh ketimbang basa-basa liyane kayata nang kosakata karo istilah-istilah sing niasane cokan nganggo istilah Jawa.
Sumber :http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Basa_Jawa
Basa Jawa dadi kontributor paling gedhe kanggo pengembangan Basa Indonesia. Sanajan dudu basa resmi nang pemerentahan, Basa Jawa kuwe duwe pengaruh ketimbang basa-basa liyane kayata nang kosakata karo istilah-istilah sing niasane cokan nganggo istilah Jawa.
Sumber :http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Basa_Jawa
WULANG WURUK
Kebudayaan Jawa kuwe ngutamaken keseimbangan, keselarasan karo keserasian, dadi kabeh unsur (urip karo mati, alam karo makhluk urip) kudu harmonis, saling berdampingan, intine kabeh kudu cocog.
Apa-apa sing marakna ora cocog kudu dihindari, angger ana sing bisa ngganggu keseimbangan kuwe kudu cepet digenahna ben kabeh mbalik harmoni maning, mbalik cocog maning.
Umum sing cokan ngganggu keseimbangan kuwe yakuwe polah menungsane, mbuh polah menungsa karo menungsa utawa menungsa karo alam. Angger polah menungsa karo alam, sing nggenahna maning umume dipimpin utawa dadi tanggungjawab pimpinan masyarakat.
Sing angel nang kebudayaan Jawa yakuwe angger keseimbangan kuwe diganggu polah menungsa karo menungsa sing umum nimbulaken konflik (harmoni keganggu). Sing jenenge ora cocog utawa ora seneng tuli umum ning merga arep ngindari konflik, umume rasa ora cocog kuwe dipendem
Sumber :http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Budaya_Jawa
Apa-apa sing marakna ora cocog kudu dihindari, angger ana sing bisa ngganggu keseimbangan kuwe kudu cepet digenahna ben kabeh mbalik harmoni maning, mbalik cocog maning.
Umum sing cokan ngganggu keseimbangan kuwe yakuwe polah menungsane, mbuh polah menungsa karo menungsa utawa menungsa karo alam. Angger polah menungsa karo alam, sing nggenahna maning umume dipimpin utawa dadi tanggungjawab pimpinan masyarakat.
Sing angel nang kebudayaan Jawa yakuwe angger keseimbangan kuwe diganggu polah menungsa karo menungsa sing umum nimbulaken konflik (harmoni keganggu). Sing jenenge ora cocog utawa ora seneng tuli umum ning merga arep ngindari konflik, umume rasa ora cocog kuwe dipendem
Sumber :http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Budaya_Jawa
GUYON MATON
Beda Merokok dan Dirokok
Under : Cerita Lucu dan Humor Dewasa
AKTIFITAS
Merokok (M) : Menghasilkan asap
Dirokok (D) : Menghasilkan cairan
(M) : Aktifitas ini lebih baik diudara terbuka
(D) : Hanya orang nekat melakukannya di udara terbuka
(M) : Asapnya mengganggu lingkungan
(D) : Bisa diarak keliling lingkungan
(M) : Di udara dingin merokok sambil berjaket
(D) : Meski dingin sekali, celana dibuka lebar
(M) : Hangat di mulut
(D) : Hangat di bawah
(M) : Perlu korek api
(D) : Korek api sangat berbahaya untuk hal ini
(M) : Perlu asbak
(D) : Perlu tissue, saputangan atau handuk
(M) : Menggunakan mulut sendiri
(D) : Mulut org lain, bisa 1 atau lebih
(M) : Tangan sendiri aktif
(D) : Tangan orang lain otomatis aktif
(M) : Mulut sendiri aktif
(D) : Mulut orang lain bisa pegel-pegel
(M) : Saat merokok kadang suka meludah
(D) : Suka diludahin
(M) : Sesudah merokok meludah juga
(D) : Kadang-kadang bisa muntah
(M) : Saat merokok bertopang kaki dgn santai
(D) : Kaki terbuka dan tubuh sesantai mungkin
(M) : Ada yg suka menggigit (Filter) rokoknya
(D) : Ada bahaya tergigit memang
(M) : Sesudah selesai kadang perlu cuci mulut
(D) : Kalau tdk hati-hati perlu cuci celana dlm
SISI KESEHATAN
(M) : Merokok bisa menyebabkan impotensi
(D) : Dirokok menyebabkan ereksi
(M) : Merokok bisa menyebabkan sakit jantung
(D) : Dirokok bikin kejang-kejang dan lemas
(M) : Merokok menyebabkan batuk uhuk-uhuk
(D) : Dirokok menyebabkan batuk ugh-ugh
(M) : Merokok berbahaya bagi wanita hamil
(D) : Pria paling sering dirokok wanita hamil
(M) : Merokok bisa merusak janin
(D) : Sesudah dirokok, pria bisa memberi janin
SISI EKONOMINYA
(M) : Kalau mau gratis perlu minta
(D) : Perlu merayu untuk dapat gratis
(M) : Kalau beli per batangnya cukup murah
(D) : Semurah-murahnya lebih mahal daripada rokok
(M) : Merokok = membayar pajak
(D) : Dirokok = membayar service
(M) : Bisa beli di pinggir jalan
(D) : Hanya pinggir jalan tertentu ada ginian
(M) : Bisa beli di supermarket
(D) : Kadang-kadang bisa dapat di Mall
Teka Teki Seks (TTS)
1.Apa beda gadis baik-baik (GBB) dan gadis nakal (GN)?
GB hanya punya SATU kartu kredit dan JARANG DIPAKAI,GN hanya punya SATU
BH dan JARANG DIPAKAI
2.Apa perbedaan celana kolor dengan balon gas?
Kalau Balon gas talinya lepas naik keatas
Kalau Celana kolor talinya lepas turun kebawah.
3.Kenapa laki-laki senang berpikir dan perempuan senang ngomong?
Karena laki-laki punya 2 kepala, perempuan punya 2 mulut.
4.Apa yang ada di dalam celana dalam wanita,depannya m belakangnya k?
merek celana dalam
5.Apa persamaan celana dalam pria dan hotel?
Sama-sama punya ballroom
6.Kenapa kecantikan lebih penting bagi seorang perempuan ketimbang
kepintaran?
Sebab lelaki yang bodoh jumlahnya lebih banyak dibandingkan lelaki yang
buta.
7.Kenapa kalau sedang bercinta maraba raba?
Karena cinta itu buta
8.Panjangnya 15 cm, kemerahan,ada kepalanya, dan membuat cewek
tergila-gila. Apa hayo?
Duit seratus ribuan
9.Lobang apa yg rasanya hangat, nikmat, dan nyaman?
LO BANGun pagi-pagi tarik selimut dan tidur lagi?
10.Kenapa di dalam bajaj nggak ada nyamuk?
Karena nyamuk sini cuma takut tiga roda
11.Apa persamaan antara ASI d an air mineral?
Sumbernya sama, dari pegunungan
12.Apa penyebab utama perceraian?
Perkawinan
13.Kenapa penis lebih praktis dari pada Credit Card?
1. Diterima diseluruh dunia.
2. Isi ulang otomatis.
3. Tanpa batas pemakaian.
4. Tidak perlu otorisasi.
5. Habis pake tidak usah tanda tangan.
14.Kenapa wanita Indonesia paling males kalo disuruh pake helm saat
naik motor?
Karena tujuh di antara sepuluh wanita Indonesia bilang lebih aman pake KOTEX!
Under : Cerita Lucu dan Humor Dewasa
AKTIFITAS
Merokok (M) : Menghasilkan asap
Dirokok (D) : Menghasilkan cairan
(M) : Aktifitas ini lebih baik diudara terbuka
(D) : Hanya orang nekat melakukannya di udara terbuka
(M) : Asapnya mengganggu lingkungan
(D) : Bisa diarak keliling lingkungan
(M) : Di udara dingin merokok sambil berjaket
(D) : Meski dingin sekali, celana dibuka lebar
(M) : Hangat di mulut
(D) : Hangat di bawah
(M) : Perlu korek api
(D) : Korek api sangat berbahaya untuk hal ini
(M) : Perlu asbak
(D) : Perlu tissue, saputangan atau handuk
(M) : Menggunakan mulut sendiri
(D) : Mulut org lain, bisa 1 atau lebih
(M) : Tangan sendiri aktif
(D) : Tangan orang lain otomatis aktif
(M) : Mulut sendiri aktif
(D) : Mulut orang lain bisa pegel-pegel
(M) : Saat merokok kadang suka meludah
(D) : Suka diludahin
(M) : Sesudah merokok meludah juga
(D) : Kadang-kadang bisa muntah
(M) : Saat merokok bertopang kaki dgn santai
(D) : Kaki terbuka dan tubuh sesantai mungkin
(M) : Ada yg suka menggigit (Filter) rokoknya
(D) : Ada bahaya tergigit memang
(M) : Sesudah selesai kadang perlu cuci mulut
(D) : Kalau tdk hati-hati perlu cuci celana dlm
SISI KESEHATAN
(M) : Merokok bisa menyebabkan impotensi
(D) : Dirokok menyebabkan ereksi
(M) : Merokok bisa menyebabkan sakit jantung
(D) : Dirokok bikin kejang-kejang dan lemas
(M) : Merokok menyebabkan batuk uhuk-uhuk
(D) : Dirokok menyebabkan batuk ugh-ugh
(M) : Merokok berbahaya bagi wanita hamil
(D) : Pria paling sering dirokok wanita hamil
(M) : Merokok bisa merusak janin
(D) : Sesudah dirokok, pria bisa memberi janin
SISI EKONOMINYA
(M) : Kalau mau gratis perlu minta
(D) : Perlu merayu untuk dapat gratis
(M) : Kalau beli per batangnya cukup murah
(D) : Semurah-murahnya lebih mahal daripada rokok
(M) : Merokok = membayar pajak
(D) : Dirokok = membayar service
(M) : Bisa beli di pinggir jalan
(D) : Hanya pinggir jalan tertentu ada ginian
(M) : Bisa beli di supermarket
(D) : Kadang-kadang bisa dapat di Mall
Teka Teki Seks (TTS)
1.Apa beda gadis baik-baik (GBB) dan gadis nakal (GN)?
GB hanya punya SATU kartu kredit dan JARANG DIPAKAI,GN hanya punya SATU
BH dan JARANG DIPAKAI
2.Apa perbedaan celana kolor dengan balon gas?
Kalau Balon gas talinya lepas naik keatas
Kalau Celana kolor talinya lepas turun kebawah.
3.Kenapa laki-laki senang berpikir dan perempuan senang ngomong?
Karena laki-laki punya 2 kepala, perempuan punya 2 mulut.
4.Apa yang ada di dalam celana dalam wanita,depannya m belakangnya k?
merek celana dalam
5.Apa persamaan celana dalam pria dan hotel?
Sama-sama punya ballroom
6.Kenapa kecantikan lebih penting bagi seorang perempuan ketimbang
kepintaran?
Sebab lelaki yang bodoh jumlahnya lebih banyak dibandingkan lelaki yang
buta.
7.Kenapa kalau sedang bercinta maraba raba?
Karena cinta itu buta
8.Panjangnya 15 cm, kemerahan,ada kepalanya, dan membuat cewek
tergila-gila. Apa hayo?
Duit seratus ribuan
9.Lobang apa yg rasanya hangat, nikmat, dan nyaman?
LO BANGun pagi-pagi tarik selimut dan tidur lagi?
10.Kenapa di dalam bajaj nggak ada nyamuk?
Karena nyamuk sini cuma takut tiga roda
11.Apa persamaan antara ASI d an air mineral?
Sumbernya sama, dari pegunungan
12.Apa penyebab utama perceraian?
Perkawinan
13.Kenapa penis lebih praktis dari pada Credit Card?
1. Diterima diseluruh dunia.
2. Isi ulang otomatis.
3. Tanpa batas pemakaian.
4. Tidak perlu otorisasi.
5. Habis pake tidak usah tanda tangan.
14.Kenapa wanita Indonesia paling males kalo disuruh pake helm saat
naik motor?
Karena tujuh di antara sepuluh wanita Indonesia bilang lebih aman pake KOTEX!
ADAT DAN BUDAYA
Kekhasan Budaya Jawa dan Budaya Lain
Selengkapanya di :http://pdfdatabase.com/index.php?q=kebudayaan+suku+jawa
Selengkapanya di :http://pdfdatabase.com/index.php?q=kebudayaan+suku+jawa
Otak Atik Mathuk
Asal-usul nama suku Jawa
May 22nd 2009 | Posted by Om Gojack
Dibalik nama-nama pria Jawa sesungguhnya ada harapan tertentu dari orangtuanya, agar anaknya kelak bisa sesuai yg diharapkan. Contohnya :
Pandai menanam bunga, diberi nama Rosman.
Pandai membaiki mobil, diberi nama Karman.
Pandai main golf, Parman.
Pandai dalam korespondensi, Suratman.
Gagah perkasa, Suparman.
Kuat dalam berjalan, Wakiman.
Berani bertanya, Asman.
Ahli membuat kue, Paiman.
Pandai berdagang, Saliman.
Pandai melukis, Saniman.
Agar jadi orang kaya, Sugiman.
Agar besar nanti pandai cari muka, Yasman.
Suka begituan, Pakman.
Suka makan toge goreng, Togiman.
Selalu ketagihan, Tuman.
Suka telanjang, Nudiman.
Selalu sibuk terus, Bisiman.
Biar pinter main game …. Giman.
Biar bisa sering cuti …. Sutiman.
Biar jadi juragan sate … Satiman.
Biar jadi juragan trasi …. Tarsiman.
Biar pinter memecahkan problem …. Sukarman.
Biar kalau ujian ndak usah mengulang …. Herman.
Biar pinter bikin jus …. Yusman.
Biar jadi orang yang berwibawa … Jaiman.
Biar jadi pemain musik …. Basman.
Biar awet muda … Boiman.
Biar pinter berperang …. Warman.
Biar jadi orang Bali … Nyoman.
Biar jadi orang Sunda …. Maman.
Biar lincah seperti monyet …. Hanoman.
Biar jadi orang Belanda …. Kuman.
Biar tetep tinggal di Jogja … Sleman.
Biar jadi tukang sepatu handal …. Soleman.
Biar tetep bisa jalan walau ndak pake mesin ….Delman.
Biar pinter bahasa jerman … Kauman.
Biar jadi polisi …. Aman.
Biar jadi jagoan …. Reman.
Biar selalu inget Tuhan …. Iman.
Biar bisa jadi joki …. Triman.
Biar bisa jadi supranatural…. Rohman.
Biar jadi orang rendah hati …. Soriman.
Biar bisa jalan jalan malem …. Batman.
Biar jadi orang besar … Sudirman.
Biar nanti pandai merayu …. Roman.
Biar tetep sadar dalam kondisi apapun …. Siuman.
Kalo nanti jadi tukang kebon …. Siraman.
Biar nanti jago nembak …. Dorman.
Biar mirip tokoh wayang …. Jelmaan.
Biar kuat di musim dingin …. Kulman.
Biar bisa santai terus … Nyaman.
Biar bisa kerja di salon …. Poniman.
Biar ga jadi orang stres …. Sutrisman.
Biar jadi orang baik hati …. Budiman.
Biar jadi orang suci …. Sulaiman.
Pandai merajut…. Sulaman.
Biar hatinya selalu iba ….Kasiman.
Biar jadi orang pecinta damai …. Pisman.
Biar jadi orang orang …. Gileluman.
————–
Sumber : http://www.kaskus.us/archive/index.php/t-109597.html
May 22nd 2009 | Posted by Om Gojack
Dibalik nama-nama pria Jawa sesungguhnya ada harapan tertentu dari orangtuanya, agar anaknya kelak bisa sesuai yg diharapkan. Contohnya :
Pandai menanam bunga, diberi nama Rosman.
Pandai membaiki mobil, diberi nama Karman.
Pandai main golf, Parman.
Pandai dalam korespondensi, Suratman.
Gagah perkasa, Suparman.
Kuat dalam berjalan, Wakiman.
Berani bertanya, Asman.
Ahli membuat kue, Paiman.
Pandai berdagang, Saliman.
Pandai melukis, Saniman.
Agar jadi orang kaya, Sugiman.
Agar besar nanti pandai cari muka, Yasman.
Suka begituan, Pakman.
Suka makan toge goreng, Togiman.
Selalu ketagihan, Tuman.
Suka telanjang, Nudiman.
Selalu sibuk terus, Bisiman.
Biar pinter main game …. Giman.
Biar bisa sering cuti …. Sutiman.
Biar jadi juragan sate … Satiman.
Biar jadi juragan trasi …. Tarsiman.
Biar pinter memecahkan problem …. Sukarman.
Biar kalau ujian ndak usah mengulang …. Herman.
Biar pinter bikin jus …. Yusman.
Biar jadi orang yang berwibawa … Jaiman.
Biar jadi pemain musik …. Basman.
Biar awet muda … Boiman.
Biar pinter berperang …. Warman.
Biar jadi orang Bali … Nyoman.
Biar jadi orang Sunda …. Maman.
Biar lincah seperti monyet …. Hanoman.
Biar jadi orang Belanda …. Kuman.
Biar tetep tinggal di Jogja … Sleman.
Biar jadi tukang sepatu handal …. Soleman.
Biar tetep bisa jalan walau ndak pake mesin ….Delman.
Biar pinter bahasa jerman … Kauman.
Biar jadi polisi …. Aman.
Biar jadi jagoan …. Reman.
Biar selalu inget Tuhan …. Iman.
Biar bisa jadi joki …. Triman.
Biar bisa jadi supranatural…. Rohman.
Biar jadi orang rendah hati …. Soriman.
Biar bisa jalan jalan malem …. Batman.
Biar jadi orang besar … Sudirman.
Biar nanti pandai merayu …. Roman.
Biar tetep sadar dalam kondisi apapun …. Siuman.
Kalo nanti jadi tukang kebon …. Siraman.
Biar nanti jago nembak …. Dorman.
Biar mirip tokoh wayang …. Jelmaan.
Biar kuat di musim dingin …. Kulman.
Biar bisa santai terus … Nyaman.
Biar bisa kerja di salon …. Poniman.
Biar ga jadi orang stres …. Sutrisman.
Biar jadi orang baik hati …. Budiman.
Biar jadi orang suci …. Sulaiman.
Pandai merajut…. Sulaman.
Biar hatinya selalu iba ….Kasiman.
Biar jadi orang pecinta damai …. Pisman.
Biar jadi orang orang …. Gileluman.
————–
Sumber : http://www.kaskus.us/archive/index.php/t-109597.html
Rabu, 01 Juli 2009
Tembang Dolanan dan Tembang Duka (pucung)
Selamt Jalan ananda:
Ibhra jati kusuma
Engkau terlahir menjemput Jangka
Enkau terlahir 2 kg97,5 bln)
Engkau menatap mentari 6 hari
Senen wage(9-9-2001) – Minggu Kliwon (16-9-2001)
Ditengah suramnya Nusantara
Ditengan Perjuangan Leluhur
Ditengan Pedihnya merintis Jalan kebenaran
Sowanlah Kehadirat Nya
Kami Anggap Kau Tumbal Perjuangan
Seperti Gugurnya Abimanyu
Memberi jalan Untuk Parikesit
Selamat Jalan Ibhra…
Jatikusuma Jayadilaga
MELATI RINONCE
1. Kehidupan adalah jalan, banyak persimpangan dan keraguan. Hanya kesadaran (jalan tengah) yang bias memandu/membibing kita kearah keselamatan.
2. Tujuan dan Intisari kehidupan adalah Keseimbangan dan kesadaran.
3. Rasa Jati adalah Penuntun Jalan Manusia mencari Ridlo Tuhan.
4. Hanya Kasih yang tak pernah Ingkar, dan bahkan Setan dan Jin pun Sungkan dengan Nur Kasih yang merupakan Anugrah tertinggi Tuhan pada Manusia.
Bukit Jamur Dipa 18-9-2001
Apresiasi
Dengan media Kebudayaan relative lebih luwes dalam menggalang toleransi dan kerukunan umat berbeda agama, suku maupun latar belakang social yang multi komplek dalam tatanan masyarakat Indonesia.
Seperti dulu para wali songo, mengadakan sosialisasi dan perkawinan budaya lewat tradisi Sekaten(Maulud) di Yogya dan Solo, yang terbukti sampai saat ini tetap actual menjadi perekat budaya yang ampuh.
Renungan :
Waktu…..
Adalah Hakim Agung
Adalah Saksi Agung
Adalah Wakil Tuhan
Hanya sang waktu yang tidak kenal kompromi
Hanya sang waktu yang tak tertaklukan manusia
Hanya dengan ke Imanan Waktu Menjadi Nisbi…
ELEGI SEMUT IRENG
Semut ireng
Anak-anak sapi
Nyabrang kali bengawan
Keong gondang dawa sungute…
(dandang gula…sunan kali jaga)
Apresiasi
Sebuah karya bernafas Parodi Kehidupan, sebuah Tembang bernada Ironi Kegetiran, sebuah Keprihatinan akan Krisi Eksistensi diri (ada semut kok beranak sapi)
Ada nada Sumbang terasa menusuk, (mengapa bangsa ini selalu silau dengan budaya seberang/nyebrang kali ada rasa pahit dari seorang anak negeri…
Semakin samara Jati diri
Semakin kabur Karakter Budaya asli
Semakin arogan budaya seberang (keong gondang)
Seolah norma mereka paling benar..
Sampai mereka lupa menghormati Tuan Rumah..
TEMBANG DOLANAN
SLUKU-SLUKU BATHOK
BATHOKE ELA-ELO
SIRAMA MENYANG SALA
LEH OLEHE PAYUNG MUTHA
TAK JENTHIT LO LO LO BHAH
WONG MATI ORA OBAH
YEN OBAH MEDENI BOCAH
YEN URIP GOLEK O DUWIT…
(SUNAN KALIJAGA)
RESENSI
Penggarapan budaya dengan pendekatan psikologi sosil ?tembang dolanan yang ditembangkan mulai dari anak2 hingga terjadi interaksi psikologis (akrab) dan sampai mereka dewasa akan mencari wacana sastrauntuk menyelami kedalaman makna yang tersirat
Sebuah Rancang bangun-Ide yang genius dari para Leluhur yangf menggarap budaya dan aplikasi yang akomodatif tanpa mematikan/menggusur budaya asli, sebuah pendekatan dakwah/syiar agama berbudi pekerti (bagaimana dengan era sekarang …)
RENUNGAN I
Serignkita terhanyut dalam Rutinitas(ritus) sebagai penekan rasa tidak ama/takut yang akhirnya membuat sang jiwa seperti Mati/tidak berkembang, padahal sang jiwa seharusnya masih menempuh Rally Kehidupan (Sang Misteri Agung)
The Tenth Insight..James Redfield
Tafsir..
Jiwa adalah bagian dari amnesia yang sangat Trasedental (Litas Batas), bias memberi inspirasi Akal, bias mengarungi samudera Gaib…, termasuk Alam Maya, karena jiwa adalah bada kedua dari tiga badan manusia :
1. badan Raga (indera)
2. badan jiwa (rasa)
3. badan ruh (spirit)
Manakala sang jiwa sebagai Median mengalami kekacauan maka metabolisme dan ritme raga (phisik) akan mengalami kekakacauan. Maka perlu kianya sang jiwa dilatih agar dapat menjadi jembatan yang baik /stabilizer antara badan raga dan bandan ruh…(selamat merenung)..
RENUNGAN II
Deskripsi bukan benda yang dieskripsikan kata-kata bukan wujud, mari kita mulai melihat segala sesuatu denga Apa adanya, bukan dengan Yang seharusnya ada, atau yang pernah ada, Untuk menjadi Bijak kita perlu bathin yang jernih tanpa subyektifitas dan intervensi dalam bentu apapun.
The Imposible question….Krishnamurti…
Apresiasi
Sering kita terjebak Arogansi Intlektual dan lebih parah lagi kalau sampai pada taraf Taklid Buta (fanatisme/fundamentalis).
Hendaknya kita ingat, bahwa segala sesuatu teori/wacana adalah wahana FIkir untuk menuju pemahaman jiwa(sampai kearah Iman dan Takwa), adalah mustahil rasa madu dan manisnya bias dipahamicukup dengan gambaran kata atau teori.. karena rasa butuh pembuktian dan akan mengantarkan kita pada Sejatine rasa / rasa jati…
RENUNGAN III
Ada orang merasa dirinya sudah suci, tetapi hanya percaya pada kebenaran kata demi kata dari kitab suci…sayangnya ia belm cukup matang untuk memahami diri sendir..
Mata ketiga….T. LobsangRampa
Sari Hikmah :
Nenek moyang kitasudah sejak dulu mempraktekkan filosofi :
a. Mulat salira Hangrasa Wani (Berani Instropeksi Diri)
b. Nagi o neng Pono Rogo (Belajarlah Ke Pono =Ngeti/Faham, Rogo = Diri Sendiri)
c. Ojo Rumansa isa, ning isa a Run\mangsa (Jangan sokpandai tapi pandailah mawas diri)
Dari uraian dan wawasan diatas, tersirat begitu pentingnya Aspek Kedewasaan Jiwa dibandingkan Aspek Eksternal (korelasi Jagad alit dan Jagad Agung)
Mata Ketiga adalah Mata Jiwa/mata Batin yang mampu menembus keterbatasan ruang dan waktu menuju Alam Astal.
RENUNGAN IV
Paling sulit bagi kita, ketika harus menghadapi “Mayority Do”
An Enemy of The People…Henry Ibsen//Hongaria
Tafsir..
Kebenaran normative yang terlanjur di yakini oleh masyarakat luas, sering kali membelenggu “kebenaran Sejati” (butuh kebangkitan kita) ada ungkapan filosofi leluhur yang sederhana dan mudah difahami :
“ Sing apik, during mesti bener sing bener ora kudu apik ….”
(yang bagus belum tentu benar, yang benar tidak harus bagus)
Memang tidak mudah menjadi sosok eksitesialis, karena dituntut punya integritas tinggi dan punya daya juang (energi lahir batin yang luar biasa) sampai pada titik Damai dengan Jati diri Sendiri tanpa mengisolaso dan lari dari kenyataan hidup..
“Damailah dengan dirimu baru damai seisi dunia,tiada kedamaian tanpa damai denga sang Ego…..Isa Al masih….
MELATI RINONCE SURA CHANDRA
1. Sudah saatnya bangsa ini Re-Instropeksi re-Evaluasi dan menegakkan jati diri
2. Sudah saatnya ada kesadaran akan pentingnya Kebangkitan Jiwa (moral Force)
karena akhir2 ini kita sangat terjebak akan kebanggaan hiruk ikuk
materialisme dan kemunafikan
3. Sudah saatnya kita merdeka dari penjajahan dan intervensi fihak asing hingga
membekukan Karakter Bangsa/ Identitas Diri
4. Sudah saatnya kita Anak negeri ini bangga dengan budaya/identitas bangsa
sendiri tanpa kelatahan mengadopsi budaya sebrang
“Hai saudaraku anak cucu bangsa Nusantara sudah saatnya Semut Ireng Bangkit dan jadi Tuan di negerinya sendiri jangan sampai orang asing jadi Majikan di negeri ini …Merdeka…
Padepokan Agung nDermo…13 april 2000
Ibhra jati kusuma
Engkau terlahir menjemput Jangka
Enkau terlahir 2 kg97,5 bln)
Engkau menatap mentari 6 hari
Senen wage(9-9-2001) – Minggu Kliwon (16-9-2001)
Ditengah suramnya Nusantara
Ditengan Perjuangan Leluhur
Ditengan Pedihnya merintis Jalan kebenaran
Sowanlah Kehadirat Nya
Kami Anggap Kau Tumbal Perjuangan
Seperti Gugurnya Abimanyu
Memberi jalan Untuk Parikesit
Selamat Jalan Ibhra…
Jatikusuma Jayadilaga
MELATI RINONCE
1. Kehidupan adalah jalan, banyak persimpangan dan keraguan. Hanya kesadaran (jalan tengah) yang bias memandu/membibing kita kearah keselamatan.
2. Tujuan dan Intisari kehidupan adalah Keseimbangan dan kesadaran.
3. Rasa Jati adalah Penuntun Jalan Manusia mencari Ridlo Tuhan.
4. Hanya Kasih yang tak pernah Ingkar, dan bahkan Setan dan Jin pun Sungkan dengan Nur Kasih yang merupakan Anugrah tertinggi Tuhan pada Manusia.
Bukit Jamur Dipa 18-9-2001
Apresiasi
Dengan media Kebudayaan relative lebih luwes dalam menggalang toleransi dan kerukunan umat berbeda agama, suku maupun latar belakang social yang multi komplek dalam tatanan masyarakat Indonesia.
Seperti dulu para wali songo, mengadakan sosialisasi dan perkawinan budaya lewat tradisi Sekaten(Maulud) di Yogya dan Solo, yang terbukti sampai saat ini tetap actual menjadi perekat budaya yang ampuh.
Renungan :
Waktu…..
Adalah Hakim Agung
Adalah Saksi Agung
Adalah Wakil Tuhan
Hanya sang waktu yang tidak kenal kompromi
Hanya sang waktu yang tak tertaklukan manusia
Hanya dengan ke Imanan Waktu Menjadi Nisbi…
ELEGI SEMUT IRENG
Semut ireng
Anak-anak sapi
Nyabrang kali bengawan
Keong gondang dawa sungute…
(dandang gula…sunan kali jaga)
Apresiasi
Sebuah karya bernafas Parodi Kehidupan, sebuah Tembang bernada Ironi Kegetiran, sebuah Keprihatinan akan Krisi Eksistensi diri (ada semut kok beranak sapi)
Ada nada Sumbang terasa menusuk, (mengapa bangsa ini selalu silau dengan budaya seberang/nyebrang kali ada rasa pahit dari seorang anak negeri…
Semakin samara Jati diri
Semakin kabur Karakter Budaya asli
Semakin arogan budaya seberang (keong gondang)
Seolah norma mereka paling benar..
Sampai mereka lupa menghormati Tuan Rumah..
TEMBANG DOLANAN
SLUKU-SLUKU BATHOK
BATHOKE ELA-ELO
SIRAMA MENYANG SALA
LEH OLEHE PAYUNG MUTHA
TAK JENTHIT LO LO LO BHAH
WONG MATI ORA OBAH
YEN OBAH MEDENI BOCAH
YEN URIP GOLEK O DUWIT…
(SUNAN KALIJAGA)
RESENSI
Penggarapan budaya dengan pendekatan psikologi sosil ?tembang dolanan yang ditembangkan mulai dari anak2 hingga terjadi interaksi psikologis (akrab) dan sampai mereka dewasa akan mencari wacana sastrauntuk menyelami kedalaman makna yang tersirat
Sebuah Rancang bangun-Ide yang genius dari para Leluhur yangf menggarap budaya dan aplikasi yang akomodatif tanpa mematikan/menggusur budaya asli, sebuah pendekatan dakwah/syiar agama berbudi pekerti (bagaimana dengan era sekarang …)
RENUNGAN I
Serignkita terhanyut dalam Rutinitas(ritus) sebagai penekan rasa tidak ama/takut yang akhirnya membuat sang jiwa seperti Mati/tidak berkembang, padahal sang jiwa seharusnya masih menempuh Rally Kehidupan (Sang Misteri Agung)
The Tenth Insight..James Redfield
Tafsir..
Jiwa adalah bagian dari amnesia yang sangat Trasedental (Litas Batas), bias memberi inspirasi Akal, bias mengarungi samudera Gaib…, termasuk Alam Maya, karena jiwa adalah bada kedua dari tiga badan manusia :
1. badan Raga (indera)
2. badan jiwa (rasa)
3. badan ruh (spirit)
Manakala sang jiwa sebagai Median mengalami kekacauan maka metabolisme dan ritme raga (phisik) akan mengalami kekakacauan. Maka perlu kianya sang jiwa dilatih agar dapat menjadi jembatan yang baik /stabilizer antara badan raga dan bandan ruh…(selamat merenung)..
RENUNGAN II
Deskripsi bukan benda yang dieskripsikan kata-kata bukan wujud, mari kita mulai melihat segala sesuatu denga Apa adanya, bukan dengan Yang seharusnya ada, atau yang pernah ada, Untuk menjadi Bijak kita perlu bathin yang jernih tanpa subyektifitas dan intervensi dalam bentu apapun.
The Imposible question….Krishnamurti…
Apresiasi
Sering kita terjebak Arogansi Intlektual dan lebih parah lagi kalau sampai pada taraf Taklid Buta (fanatisme/fundamentalis).
Hendaknya kita ingat, bahwa segala sesuatu teori/wacana adalah wahana FIkir untuk menuju pemahaman jiwa(sampai kearah Iman dan Takwa), adalah mustahil rasa madu dan manisnya bias dipahamicukup dengan gambaran kata atau teori.. karena rasa butuh pembuktian dan akan mengantarkan kita pada Sejatine rasa / rasa jati…
RENUNGAN III
Ada orang merasa dirinya sudah suci, tetapi hanya percaya pada kebenaran kata demi kata dari kitab suci…sayangnya ia belm cukup matang untuk memahami diri sendir..
Mata ketiga….T. LobsangRampa
Sari Hikmah :
Nenek moyang kitasudah sejak dulu mempraktekkan filosofi :
a. Mulat salira Hangrasa Wani (Berani Instropeksi Diri)
b. Nagi o neng Pono Rogo (Belajarlah Ke Pono =Ngeti/Faham, Rogo = Diri Sendiri)
c. Ojo Rumansa isa, ning isa a Run\mangsa (Jangan sokpandai tapi pandailah mawas diri)
Dari uraian dan wawasan diatas, tersirat begitu pentingnya Aspek Kedewasaan Jiwa dibandingkan Aspek Eksternal (korelasi Jagad alit dan Jagad Agung)
Mata Ketiga adalah Mata Jiwa/mata Batin yang mampu menembus keterbatasan ruang dan waktu menuju Alam Astal.
RENUNGAN IV
Paling sulit bagi kita, ketika harus menghadapi “Mayority Do”
An Enemy of The People…Henry Ibsen//Hongaria
Tafsir..
Kebenaran normative yang terlanjur di yakini oleh masyarakat luas, sering kali membelenggu “kebenaran Sejati” (butuh kebangkitan kita) ada ungkapan filosofi leluhur yang sederhana dan mudah difahami :
“ Sing apik, during mesti bener sing bener ora kudu apik ….”
(yang bagus belum tentu benar, yang benar tidak harus bagus)
Memang tidak mudah menjadi sosok eksitesialis, karena dituntut punya integritas tinggi dan punya daya juang (energi lahir batin yang luar biasa) sampai pada titik Damai dengan Jati diri Sendiri tanpa mengisolaso dan lari dari kenyataan hidup..
“Damailah dengan dirimu baru damai seisi dunia,tiada kedamaian tanpa damai denga sang Ego…..Isa Al masih….
MELATI RINONCE SURA CHANDRA
1. Sudah saatnya bangsa ini Re-Instropeksi re-Evaluasi dan menegakkan jati diri
2. Sudah saatnya ada kesadaran akan pentingnya Kebangkitan Jiwa (moral Force)
karena akhir2 ini kita sangat terjebak akan kebanggaan hiruk ikuk
materialisme dan kemunafikan
3. Sudah saatnya kita merdeka dari penjajahan dan intervensi fihak asing hingga
membekukan Karakter Bangsa/ Identitas Diri
4. Sudah saatnya kita Anak negeri ini bangga dengan budaya/identitas bangsa
sendiri tanpa kelatahan mengadopsi budaya sebrang
“Hai saudaraku anak cucu bangsa Nusantara sudah saatnya Semut Ireng Bangkit dan jadi Tuan di negerinya sendiri jangan sampai orang asing jadi Majikan di negeri ini …Merdeka…
Padepokan Agung nDermo…13 april 2000
Jalan Tengah (Keadilan)
JALAN TENGAH
(KEADILAN)
Ketika tragedi di politisir
Ketika Terorisme menjadi Aktor Utama
Ketika Gensi menjadi Arogansi
Siapapun Usama Bin Laden
Siapapun Taliban
Siapapun yang harus bertanggung jawab
Tapi Kenapa tidak Instrokpeksi?
Kenapa kecolongan
Kenapa radar canggih –Blank
Sudahkah kita belajar dari peristiwa ini?
Mungkinkah ada manusia Menang Terus?
Lupakah kita pada Siang dan Malam
Renungan I
“Ada 2 Golongan besar Manusia”
1. Golongan Orang yang suka menyiksa diri
2. Golongan orang yang suka memanjakan diri.
Kedua golongan tersebut sama-sama tidak berguna dihadapan Tuhan
Jalan terbaik adalah Jalan Tengah.
“pidato dakwah pertama Sidharta Gautama”
Tafsir
Marila menghidari Ektrimitas (fanatic) baik fanatic kanan maupun fanatic kiri. Terlalu menyakiti diri dengan ibadah menjadi narkotik rasa atau menjadi orang yang tahunya bahwa hidup ini adalah senag-senang/hura-hura tanpa peduli lingkungan, kompromi antara kana kiri adalah Jalan Tengah (jalan Keadilan dan kebijaksanaan)
Keseimbangan antara lahir dan batin ada pada Rasa Jati (kesadaran).
Renungan II
“Carilah Duniamu, seolah kau hidup 1000 tahun lagi, carilah akheratmu seolah kau besuk akan mati”
(hadis nabi Muhammad)
Tafsir
Dalam kontek berfikir logis, terlihat sekali bahwa tuntunan nabi Muhammad sangat realistis dan normative, dalam perkembangan selanjutnya terutama saat akhir-akhir ini yang terjadi banyak pandangkalan tafsir karena Tumpulnya Rasa. Sehingga banyak Umat Islam yang Taklid Buta(Percaya Secara Militan dan Ekstrem Garis keras, tidak lagi luwes dan flekibel, seperti Nabi yang pernah membuat perjanjian ekstradisi dengan Yahudi di Madinah.
Renungan III
“Jalan Keselamatan Adalah Jalan Salib” (Isa Al Masih)
Tafsir
Setelah direnungkan dengan jernih dan jujur terdapat kesamaan Visi dan Esensi (Tujuan
dan Intisari) dari semua ajaran para Utusan Tuhan adalah jalan Tengan ( kesadara /
keseimbangan)
Ada 3 Badan dalam diri kita :
1. Badan Raga
2. Badan Jiwa/Rasa
3. Badan Ruh
Maka yang menjadi Timbangannya antara Badan Raga(jasad) dan Badan Ruh adalah jiwa/Rasa. Disinilah tantangan kita untuk membuat keseimbangan Lahir-batinmenuju Kesadaran Tertinggi yaitu Kasih.
(KEADILAN)
Ketika tragedi di politisir
Ketika Terorisme menjadi Aktor Utama
Ketika Gensi menjadi Arogansi
Siapapun Usama Bin Laden
Siapapun Taliban
Siapapun yang harus bertanggung jawab
Tapi Kenapa tidak Instrokpeksi?
Kenapa kecolongan
Kenapa radar canggih –Blank
Sudahkah kita belajar dari peristiwa ini?
Mungkinkah ada manusia Menang Terus?
Lupakah kita pada Siang dan Malam
Renungan I
“Ada 2 Golongan besar Manusia”
1. Golongan Orang yang suka menyiksa diri
2. Golongan orang yang suka memanjakan diri.
Kedua golongan tersebut sama-sama tidak berguna dihadapan Tuhan
Jalan terbaik adalah Jalan Tengah.
“pidato dakwah pertama Sidharta Gautama”
Tafsir
Marila menghidari Ektrimitas (fanatic) baik fanatic kanan maupun fanatic kiri. Terlalu menyakiti diri dengan ibadah menjadi narkotik rasa atau menjadi orang yang tahunya bahwa hidup ini adalah senag-senang/hura-hura tanpa peduli lingkungan, kompromi antara kana kiri adalah Jalan Tengah (jalan Keadilan dan kebijaksanaan)
Keseimbangan antara lahir dan batin ada pada Rasa Jati (kesadaran).
Renungan II
“Carilah Duniamu, seolah kau hidup 1000 tahun lagi, carilah akheratmu seolah kau besuk akan mati”
(hadis nabi Muhammad)
Tafsir
Dalam kontek berfikir logis, terlihat sekali bahwa tuntunan nabi Muhammad sangat realistis dan normative, dalam perkembangan selanjutnya terutama saat akhir-akhir ini yang terjadi banyak pandangkalan tafsir karena Tumpulnya Rasa. Sehingga banyak Umat Islam yang Taklid Buta(Percaya Secara Militan dan Ekstrem Garis keras, tidak lagi luwes dan flekibel, seperti Nabi yang pernah membuat perjanjian ekstradisi dengan Yahudi di Madinah.
Renungan III
“Jalan Keselamatan Adalah Jalan Salib” (Isa Al Masih)
Tafsir
Setelah direnungkan dengan jernih dan jujur terdapat kesamaan Visi dan Esensi (Tujuan
dan Intisari) dari semua ajaran para Utusan Tuhan adalah jalan Tengan ( kesadara /
keseimbangan)
Ada 3 Badan dalam diri kita :
1. Badan Raga
2. Badan Jiwa/Rasa
3. Badan Ruh
Maka yang menjadi Timbangannya antara Badan Raga(jasad) dan Badan Ruh adalah jiwa/Rasa. Disinilah tantangan kita untuk membuat keseimbangan Lahir-batinmenuju Kesadaran Tertinggi yaitu Kasih.
Rahasia Perjalanan Sang Guru
Hidup adalah rangkaian ujian-ujian dari Tuhan kepada Umatnya, keterikatan / kemelekatan pada keindahan dan kenikmatan dunia akan menjauhkan kita dari Percerahan batin serta kesadaran fakir bahwa Takdir baik dan takdir buruk , tidak bias dipilih satu persatu , seperti Lagu Gelombang ada pasang ada surut.
Sadar dan Ikhlas adalah jalan menuju Kerajaan Allah.
Aja milih , aja nampik, urip sak derma nderek dawuhe Gusti. Tanpa banyak memeilih, kita akan terbiasa menekan ego dan mendewasakan Nafsu.
Renungan:
“Hidup ini pasti, mati itu pasti, mereka yang mencintai seratus macam akan menderita seratus macam”
(sang Budha)
‘Aku urip ,ana kang paring urip” adalah intisari/ esensi keimanan bahwa antara Kawula – Gusti ada jaminan/garansi bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang untuk semua umatnya.
MELATI RINONCE
1. Tanpa latiha tekun serta bimbingan dari Guru yang penuh kasih rasanya
terlalu sulit kita mencapai Keikhlasan.
2. Melepaskan ketertarikan/ketergantungan adalah upaya memperkecil resiko
kekecewaan/ sakit hati serta jalan meniti keimanan dan bakti keada Allah
3. Totalitas dan penyerahan diri adalah syarat Mutlak pengabdian dan pensucian
batin sebagai wahana keimanan kita pada Tuhan semesta alam.
Selamat berlatih menuju keikhlasan- semoga Allah memberkati kita semua.
Desa nDermo, Pare-Jatim 13 April 2000
Renungan :
1. “Sucining Bathin adalah tujuan pokok dari segala ibadah, karena hanya dengan
Sucinya Bathin, frekuensi/gelombang kita tersambung dengan “Yang Maha
Suci” “Maha Kekal”Seperti Halnya Gelombang TV atau Radio
Memaafkan=Ikhlas
2. Tiada yang abadi di dunia ini, agar kita tidak dipenuhi rasa kecewa dan sakit
kepala, maka alangkah bijak jika kita tidak terlalu Melekat terhadap segala
sesuatu yang masih wujud/fisik karena terkena hokum fana/rusak” Siapa tidak
merasa memiliki, tidak akan kehilangan”
3. Segala pekerjaan kita dalah Ibadah/bhakti kita kepada Tuhan. Seharusnya
dilakukan dengan sepenuh hati jiwa dan raga (totalitas) tanpa berhitung akan
hasil karena pada hakekatnya kita hidup ada yang memberi kehidupan inilah
makna Bhakti/Ikhlas.
4. Rasa GR(Gede Rumangsa) adalah Nafsu-Kasar/Wah, sedang mawas diri/mesu salira
adalah wahana mencari isi/Woh, tanpa hidayahNya kita tidak ada apa-apanya.
Sadar dan Ikhlas adalah jalan menuju Kerajaan Allah.
Aja milih , aja nampik, urip sak derma nderek dawuhe Gusti. Tanpa banyak memeilih, kita akan terbiasa menekan ego dan mendewasakan Nafsu.
Renungan:
“Hidup ini pasti, mati itu pasti, mereka yang mencintai seratus macam akan menderita seratus macam”
(sang Budha)
‘Aku urip ,ana kang paring urip” adalah intisari/ esensi keimanan bahwa antara Kawula – Gusti ada jaminan/garansi bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang untuk semua umatnya.
MELATI RINONCE
1. Tanpa latiha tekun serta bimbingan dari Guru yang penuh kasih rasanya
terlalu sulit kita mencapai Keikhlasan.
2. Melepaskan ketertarikan/ketergantungan adalah upaya memperkecil resiko
kekecewaan/ sakit hati serta jalan meniti keimanan dan bakti keada Allah
3. Totalitas dan penyerahan diri adalah syarat Mutlak pengabdian dan pensucian
batin sebagai wahana keimanan kita pada Tuhan semesta alam.
Selamat berlatih menuju keikhlasan- semoga Allah memberkati kita semua.
Desa nDermo, Pare-Jatim 13 April 2000
Renungan :
1. “Sucining Bathin adalah tujuan pokok dari segala ibadah, karena hanya dengan
Sucinya Bathin, frekuensi/gelombang kita tersambung dengan “Yang Maha
Suci” “Maha Kekal”Seperti Halnya Gelombang TV atau Radio
Memaafkan=Ikhlas
2. Tiada yang abadi di dunia ini, agar kita tidak dipenuhi rasa kecewa dan sakit
kepala, maka alangkah bijak jika kita tidak terlalu Melekat terhadap segala
sesuatu yang masih wujud/fisik karena terkena hokum fana/rusak” Siapa tidak
merasa memiliki, tidak akan kehilangan”
3. Segala pekerjaan kita dalah Ibadah/bhakti kita kepada Tuhan. Seharusnya
dilakukan dengan sepenuh hati jiwa dan raga (totalitas) tanpa berhitung akan
hasil karena pada hakekatnya kita hidup ada yang memberi kehidupan inilah
makna Bhakti/Ikhlas.
4. Rasa GR(Gede Rumangsa) adalah Nafsu-Kasar/Wah, sedang mawas diri/mesu salira
adalah wahana mencari isi/Woh, tanpa hidayahNya kita tidak ada apa-apanya.
Langganan:
Postingan (Atom)



